Pluralisme Agama
Merekalah para lulusan universitas
negeri dan lulusan universitas terkenal yang menjadi ladang penanaman keyakinan
pluralisme agama, dengan bermodalkan ilmu agama yang pas-pasan dan keyakinan
terhadap islam yang setenngah-setengah termasuk sebab mudahnya teori ini mereka
lahap dengan mudahnya. Dan para profesor-profesor mereka yang sok tau agama
dengan title yang panjang dibelakang nama mereka dengan udahnya tanpa merasa
memiliki dosa mengajarkan kepada mahasiswanya untuk meyakini keyakinan nyeleneh
ini. Seorang dosen fakultas ushuluddin an Filsafat UIN Jakarta menuliskan “
Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi ilahi ini dan
bahwa seiap agama lahir dan terikat pada konterks tertentu menjadi argumen
bahwa tidak ada agama yang lebih atau sempurna dari agama yang lain. Semua
bentuk bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Maha benaran dan ke-Maha mutlakan
tuhan,(hal 21).(satu tuhan satu agama hal 1,
Dr. Adian Husaini)
Pluralisme yang digunakan para liberalis sebagai
alasan kepada umat islam yang mengatas namakan agamanya paling benar, mereka
melarang kita menyalahkan agama lain dan kita diharuskan nertal,dengan tidak
mengatakan agama islam adalah agama yang paling benar. Jika umat ialam tetap
demikian maka kita umat islam akan di beri lable “tidak tolersi” .Mereka tidak
sadar ketika mereka mengatakan bahwa umat islam yang mengatasnamakan agamanya
dala agama yang paling benar adalah salah, maka seketika itu dia bukanlah orang
yang plural sejati, seharusnya dia mau bersikap primitif dan konsekuen pada
pendapat sendiri. Mereka mengatakan toleransi dan semua adalah benar, maka
mereka harus diam, mengapa? Jika mereka menyalahkan orang yang mengatakan
terhadap agamanya itu adalah keyakinan yang benar, itu artinya mereka tidak
toleran, mengapa mereka mengatakan kita salah, malau menurut mereka kita tidak
boleh berkeyakinan dan mengatakan keyakinan kita yang paling benar?.
Sebelum islam masuk ke Indonesia,
terdapat agama yang bernama Bhairwatantara, di dalm agama ini terdapat ritual
meminum darah manusia dan memakan dagingnya (Paul Michel Munoz), lalu apakan
agama ini bisa disamakan dengan agama islam yang sama sekali tidak ada ritual
yang aneh aneh dan menjjikkan itu?. ada juga agama yang menyembah syiton
bukankah syaiton adalah musuh manusia?, beanrkah semua agama benar, dengan
mereka beralaskan kebenaran yang mutlak hanyalah dari Allah, mereka tidak sadar
bukakah Allah telah menjadikan islam sebagai agama penghapus dari semua agama
yang harus diyakini kebenarannya?, dan Allah telah banyak mencontohkan dalam al
Quran orang-orang yang tidak mempercayai dakwah islam dengan azab yang pedih
nanti di neraka?.
Dan diantara pedapat mereka mengatakan
nama dari suatu agama tidak penting, dalam kehidupan jika seseorang melakukan kebaikan
tidak akan ditanya apa agamanya, dan semuanya akan masuk surga asalkan
melakukan kebaikan dengan tanpa ada kaitannya dengan agama. Dari sini saja
pendapat nyeleneh mereka sudan
membuat orang-orang kita tertawa, mereka mengatakan nama suatu agama tidak
penting asalkan berbuat baik itu lucu, bukankan yang memberi petunjuk kepada
manusia bahwa suatu perbuatan itu adalah baik adalah berasal dari ajaran
agama?. Manusia memiliki hawa nafsu dan akal, terkadang hawa nafsu lebih kuat
daripada akal, maka tidak mungkin tanpa agama manusia akan mengetahui bahwa
suatu perbuatan dikatakan sebagai kebaikan. Dan jika dikatakan demikian, maka jika mereka para pluralime dan liberal
meninggal maka bagaimana kita akan menguburkannya?, jika agama mereka tidak
jelas, apakah dengan dimandikan dan di solati seperti islam? Atau apakah dengan
di bakar, atau dengan cara dikuburkan berdiri atau yang lainnya?, tentu saja
akan membuat kesulitan.
Mereka juga mengatakan bahwa nama
suatu agama tidak penting, dan jika berbuat baik tidak akan ditanya agamanya,
dan kebaikan akan masuk surga dengan tanpa memenadang agama dan surga itu luas.
Adakah kalimat yang mengatakan demikian dalam al Quran?, apakah mereka yang
memilki surga? Bukankah neraka juga luas? Hingga mengatakan tanpa agama manusia
bisa masuk surga asal berbuat baik?. Adapun kita, kita berani mengatakan siapa
yang masuk islam maka dia isnyaalah masuk surga dan siapa yang kafir tempatnya
adalah di dalam neraka, meski kita tidak memaksa Allah untuk memasukkan islam
ke dalam surga dan kafir ke dalam neraka karena semuanya adalah kehendak Allah,
Dilah yang memiliki surga dan neraka. Tapi bukankan Allah telah menjelaskannya
secara jelas dalam al Quran bahwa barang siapa yang menjadikan agama selain
islam maka segala amal bainya tidak akan diterima (al baqoroh 85) , demikianlah
banya sekali kerancuan dari perkataan mereka.
Islam sebagai agama yang benar telah
mengajarkan toleransi dan pluralise beragama yang benar, sebagaimana telah
banyak penulis katakan dalam bab lain bahwa toleransi yang benar kita
kembalikan kepada mana asal plural dal kalimat bahasa ingris tadi , yaitu mngakui
keberagaman yang ada dengan tanpa meyakini kebenarannya. Setiap kita harus
memiliki keyakian yang kuat, agama mana yang kita pilih jika kita anggap benar
maka yakinilah, boleh saja berkeyakinan agama kitalah yang paling benar. Dan
mari kita hilangkan pemahan pluralisme agama yang salah itu, saya penulis
memang tidak toleransi dengan pendapat yang satu ini, karena toleransi ala
mereka bukanlah toleransi, tetapi sok toleransi dan gak toleransi sama sekali.
Jika virus plural ini tetap
berkembang di Indonesia khususnya, maka akan membahayakan kepada konstistusi
negara kita, bukan malah mendukung bhineka tunggal ika, tapi malah merusak
bhineka tunggal ika, karena menurut mereka tidak ada perbadaan dan semuanya
sama, semua agama sama, masjid dan greja dan bihara juga sama, maka akan
amburadul ritualnya, yang sholat akan berebut tempat, akan berebut menjadi
ketua dan doa menurut cara masing masing. Dan uang paling aneh adalah acara
pengurburan mayat, semua agama akan berebut menguburkan si mayit denga cara
masing masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar